Berita FKIP Terkini

Studi Ekskursi Museum Pendidikan Surabaya Perkuat Literasi Sejarah dan Inovasi Pembelajaran Prodi Pendidikan IPA FKIP UNISLA

gambar
Berita Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

Studi Ekskursi Museum Pendidikan Surabaya Perkuat Literasi Sejarah dan Inovasi Pembelajaran Prodi Pendidikan IPA FKIP UNISLA

LAMONGAN – Program Studi Pendidikan IPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Lamongan menyelenggarakan Studi Ekskursi “Literasi Sejarah dan Inovasi Pendidikan di Museum Pendidikan Surabaya” pada Jumat, 31 Maret 2023. Kegiatan dilaksanakan di Museum Pendidikan Surabaya yang berlokasi di Jalan Genteng Kali Nomor 10, Surabaya, dengan melibatkan 55 mahasiswa dan 8 dosen pendamping. Studi ekskursi dirancang sebagai pembelajaran luar kelas yang mengajak mahasiswa mempelajari perkembangan pendidikan melalui artefak, manuskrip, dan alat peraga sejarah. Kegiatan ini penting untuk memperkuat literasi sejarah sekaligus melatih mahasiswa menghubungkan warisan pendidikan masa lalu dengan kebutuhan inovasi pembelajaran sains masa kini. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa didorong untuk melihat museum bukan sekadar ruang penyimpanan benda bersejarah, tetapi sebagai laboratorium ide untuk mengembangkan inovasi pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman.


Pelaksanaan kegiatan dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memperluas pengalaman belajar mahasiswa agar tidak hanya bergantung pada pembelajaran teoritis di ruang kelas. Pendidikan IPA membutuhkan calon pendidik yang mampu memahami perkembangan ilmu pengetahuan secara kritis, termasuk sejarah bagaimana pengetahuan dan teknologi pendidikan berkembang dari masa ke masa. Museum Pendidikan Surabaya dipilih karena memiliki koleksi yang merepresentasikan perjalanan pendidikan Indonesia dari berbagai periode sejarah. Melalui interaksi langsung dengan benda dan artefak pendidikan, mahasiswa dapat mengamati bagaimana keterbatasan teknologi pada masa lalu justru melahirkan kreativitas dan inovasi dari para pendidik. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk merancang pembelajaran dan media sains yang lebih inovatif tanpa kehilangan akar sejarah dan nilai-nilai kearifan lokal.

Kegiatan diikuti oleh 55 mahasiswa dengan pendampingan 8 dosen tetap Program Studi Pendidikan IPA serta melibatkan Edukator Utama Museum Pendidikan Surabaya dan akademisi atau pakar pendidikan sains sebagai narasumber dan fasilitator diskusi. Materi kegiatan berfokus pada literasi sejarah pendidikan, evolusi media dan alat peraga pembelajaran, prinsip sains di balik artefak pendidikan, serta peluang transformasi teknologi pendidikan masa lalu menjadi inovasi masa kini. Bentuk kegiatan meliputi pemaparan pengantar historis, observasi partisipatif, identifikasi artefak, pengisian lembar kerja analitis, metode inkuiri sejarah, diskusi kelompok atau FGD, presentasi pleno, dan refleksi. Mahasiswa tidak diposisikan sebagai pengunjung pasif, tetapi diarahkan untuk mengamati, mempertanyakan, menganalisis, dan mengembangkan hipotesis mengenai fungsi serta kelebihan dan kekurangan berbagai instrumen pendidikan yang ditemukan. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi, keberanian menyampaikan argumentasi, serta munculnya berbagai gagasan inovatif yang menghubungkan artefak sejarah dengan teknologi seperti Augmented Reality (AR), Artificial Intelligence (AI), dan media pembelajaran berbasis teknologi.
Ketua Program Studi Pendidikan IPA FKIP Universitas Islam Lamongan, Silvi Rosiva Rosdiana, M.Pd., yang juga menjadi ketua pelaksana, menekankan bahwa kegiatan studi ekskursi ini harus dipahami sebagai proses riset lapangan, bukan sekadar kunjungan wisata. Dalam arahannya, mahasiswa didorong untuk mengaktifkan ketajaman analisis observasional ketika berhadapan langsung dengan artefak dan sejarah pendidikan. Pendekatan tersebut menempatkan mahasiswa sebagai calon pendidik dan peneliti yang mampu menghubungkan fakta sejarah dengan kebutuhan inovasi pendidikan masa depan. Semangat yang dibangun adalah bahwa setiap warisan keilmuan masa lalu dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan solusi baru yang lebih relevan, efektif, dan bermanfaat. Melalui pengalaman belajar langsung tersebut, mahasiswa diharapkan mampu membawa semangat inovasi tanpa kehilangan penghargaan terhadap sejarah, peradaban, dan nilai-nilai moral dalam pengembangan ilmu pengetahuan.


Dampak kegiatan terlihat dari meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam menghubungkan literasi sejarah dengan pengembangan media dan teknologi pembelajaran sains. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 92 persen peserta menilai sangat sesuai terhadap keterkaitan artefak sejarah museum dengan materi inovasi media ajar, sementara 88 persen menilai penjelasan edukator dan panelis berada pada kategori sangat baik. Sebanyak 85 persen peserta juga menilai metode inkuiri lapangan sangat efektif untuk membangun daya kritis dibandingkan pembelajaran konvensional di kelas. Bahkan, 95 persen mahasiswa menyatakan sangat setuju bahwa kegiatan tersebut mendorong mereka untuk merancang media pembelajaran IPA berbasis Edutechnosciencepreneurship. Dampak lainnya adalah tumbuhnya keberanian mahasiswa untuk berdiskusi secara kritis, munculnya kelompok diskusi lanjutan, meningkatnya minat terhadap penulisan karya ilmiah, serta terbentuknya kolaborasi lintas semester dalam mengembangkan gagasan riset dan inovasi pendidikan.
Kegiatan ini juga menjadi ruang lahirnya berbagai gagasan inovatif yang menghubungkan sejarah pendidikan dengan kebutuhan pembelajaran masa depan. Dalam forum FGD, mahasiswa menggagas pemanfaatan AR dan AI untuk menghidupkan kembali alat peraga sejarah dalam bentuk media pembelajaran yang lebih interaktif. Kelompok lain mengembangkan gagasan mengenai literasi kebencanaan dan Futures Thinking melalui rancangan pembelajaran STEM yang responsif terhadap ancaman gempa dan tsunami. Pada sesi pleno, peserta juga memunculkan gagasan alat peraga hibrida yang menggabungkan desain klasik berbahan kayu dengan sensor digital murah untuk menjangkau sekolah-sekolah di wilayah pedesaan. Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman mengamati artefak sejarah mampu menggeser posisi mahasiswa dari sekadar pengguna media menjadi kreator yang mampu mengembangkan inovasi pendidikan berbasis kebutuhan nyata dan potensi pasar.

Studi ekskursi ini secara eksplisit mendukung visi Program Studi Pendidikan IPA, yaitu “Mengembangkan program studi Pendidikan IPA yang Unggul dalam mengintegrasikan pembelajaran dan keilmuan IPA berbasis Edutechnosciencepreneurship dengan berlandaskan Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyah tingkat Internasional Tahun 2033.” Pilar Edu diwujudkan melalui refleksi pedagogis terhadap perkembangan metode dan media pembelajaran dari masa ke masa. Pilar Techno dan Science diperkuat melalui analisis prinsip kerja alat peraga, material, mekanisme, serta peluang rekayasa teknologi modern berbasis AR dan AI. Pilar Preneurship dikembangkan ketika mahasiswa mulai melihat media pembelajaran sebagai produk inovatif yang dapat memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi. Seluruh proses tersebut dipadukan dengan nilai Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyah melalui sikap tawasuth, tawazun, tasamuh, ta’adul, serta kesadaran bahwa pengembangan ilmu harus diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat. Dengan demikian, studi ekskursi menjadi bentuk nyata pembelajaran yang mengintegrasikan sejarah, pendidikan, sains, teknologi, inovasi, kewirausahaan, dan karakter dalam satu pengalaman akademik yang utuh.
Sebagai tindak lanjut, Program Studi Pendidikan IPA menetapkan sejumlah target luaran agar pengalaman belajar di museum tidak berhenti pada kegiatan kunjungan. Seluruh 55 mahasiswa ditargetkan menghasilkan satu draf purwarupa media pembelajaran sains berbasis Edutechnosciencepreneurship yang terinspirasi dari hasil observasi museum. Program studi juga menargetkan lahirnya minimal dua manuskrip artikel ilmiah, tiga kelompok mahasiswa yang mengembangkan proposal PKM skema Karsa Cipta atau Kewirausahaan, serta satu FGD lanjutan mengenai integrasi AR dan AI pada desain instrumen IPA klasik. Selain itu, direncanakan penyusunan Implementation Agreement antara Program Studi Pendidikan IPA Universitas Islam Lamongan dan Museum Pendidikan Surabaya untuk membuka peluang kerja sama penelitian lanjutan. Melalui tindak lanjut tersebut, kegiatan studi ekskursi diharapkan mampu berkembang menjadi ekosistem riset dan inovasi yang menghasilkan karya nyata, publikasi ilmiah, produk pendidikan, dan kolaborasi kelembagaan yang berkelanjutan.

Ke depan, Program Studi Pendidikan IPA FKIP Universitas Islam Lamongan akan terus memperkuat pembelajaran yang menghubungkan pengalaman empiris, sejarah, sains, teknologi, dan inovasi. Pengalaman studi ekskursi ini menunjukkan bahwa ruang belajar tidak terbatas pada kelas dan laboratorium, tetapi dapat diperluas ke museum, komunitas, lingkungan, dan berbagai ruang sosial yang menyimpan sumber belajar autentik. Mahasiswa diharapkan mampu menjadikan pengalaman tersebut sebagai bekal untuk merancang pembelajaran IPA yang kontekstual, kreatif, dan relevan dengan tantangan masa depan. Melalui budaya belajar yang terbuka terhadap sejarah sekaligus berani menciptakan inovasi, Program Studi Pendidikan IPA terus menyiapkan calon pendidik, peneliti, dan inovator yang mampu bersaing secara nasional dan internasional. Mari bergabung bersama Program Studi Pendidikan IPA FKIP Universitas Islam Lamongan untuk tumbuh menjadi generasi pendidik dan saintis yang unggul, inovatif, berkarakter Islami, serta mampu mengubah pengetahuan menjadi solusi bagi masyarakat dan peradaban.

Leave your thought here

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *