Perkuat Distingsi Matematika Realistik Menuju Internasional 2033, Prodi Pendidikan Matematika Unisla Helat Kuliah Umum “Bedah Teori Freudenthal dan Implementasinya di Pendidikan Abad 21”
Perkuat Distingsi Matematika Realistik Menuju Internasional 2033, Prodi Pendidikan Matematika Unisla Helat Kuliah Umum “Bedah Teori Freudenthal dan Implementasinya di Pendidikan Abad 21”
fkip.unisla.ac.id, 8 Desember 2022, 14:20 WIB
Tim Redaksi
LAMONGAN, FKIP Universitas Islam Lamongan — Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Lamongan (Unisla) menggelar Kuliah Umum bertajuk “Bedah Teori Freudenthal dan Implementasinya di Pendidikan Abad 21” di Aula Gedung A Kampus Unisla, Kamis (8/12/2022). Acara ini diikuti secara antusias oleh mahasiswa lintas semester prodi Pendidikan Matematika guna memperdalam landasan filosofis dan pedagogis pembelajaran matematika modern.
Kegiatan akademik ini menjadi pilar fundamental yang bersentuhan langsung dengan distingsi utama visi keilmuan prodi, yakni mewujudkan Program Studi Pendidikan Matematika yang unggul dalam Pengembangan Iptek dan Edupreneurship yang menekankan pada media pembelajaran bercirikan matematika realistik dengan mengamalkan risalah Islamiyah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah di Tingkat Internasional tahun 2033.
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unisla, Elly Anjarsari, M.Pd., menegaskan bahwa teori Hans Freudenthal merupakan ruh utama dari kekhasan kurikulum yang diusung oleh prodi. Melalui gagasan Realistic Mathematics Education (RME), matematika diposisikan bukan sebagai produk jadi yang kaku, melainkan sebagai aktivitas manusia (mathematics as a human activity).
“Visi prodi kami menetapkan target keunggulan pada media pembelajaran bercirikan matematika realistik yang diakui hingga tingkat internasional pada tahun 2033. Teori Hans Freudenthal inilah yang menjadi fondasi teoritis terpenting bagi mahasiswa kami. Calon guru matematika Unisla dituntut mampu merancang skenario dan media pembelajaran yang berakar dari realitas kehidupan sehari-hari peserta didik sebelum membawanya ke tahap formal matematika,” ujar Elly Anjarsari, M.Pd. di sela kegiatan.

Elly juga menambahkan bahwa pendekatan realistik ini berpadu harmonis dengan pilar edupreneurship dan nilai-nilai keislaman Aswaja an-Nahdliyah. “Konsep matematisasi realistik menuntut kepekaan terhadap lingkungan sekitar peserta didik. Sikap ini mencerminkan prinsip Aswaja yang membumi, adaptif terhadap kemaslahatan masyarakat (mashlahah ‘ammah), serta mendorong lahirnya produk-produk inovasi media dan materi ajar kreatif (edupreneurship) yang ramah siswa dan berdaya saing global,” imbuhnya.
Hadir sebagai narasumber utama, akademisi sekaligus dosen Pendidikan Matematika Unisla, Rahma Febriyanti, M.Pd., mengupas materi bertajuk “Teori Hans Freudenthal dan Relevansinya dalam Pembelajaran Matematika Abad 21”. Dalam paparannya, Rahma membedah prinsip utama RME, seperti penemuan terbimbing (guided reinvention), matematisasi horizontal dan vertikal, pemanfaatan konteks nyata, serta interaktivitas di kelas yang melatih keterampilan berpikir kritis (critical thinking) dan pemecahan masalah (problem solving).
“Pembelajaran abad ke-21 tidak lagi berpusat pada guru yang mendikte rumus (teacher-centered), melainkan memberi ruang seluas-luasnya bagi siswa untuk mengonstruksi pengetahuannya sendiri (student-centered). Di sinilah letak kekuatan teori Freudenthal: matematika diajarkan agar peserta didik memahami dunia nyata di sekitarnya, bukan sekadar menghafal angka di buku,” terang Rahma.
Dekan FKIP Unisla, Moh. Nurman, M.Pd., dalam sambutannya saat membuka kegiatan menyampaikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan kajian teoritis yang mendalam ini. Menurutnya, penguasaan teori belajar yang kuat merupakan bekal mutlak bagi calon guru profesional agar inovasi pembelajaran maupun media ajar yang dikembangkan memiliki pijakan akademik yang kokoh dan relevan dengan tantangan zaman.
Rangkaian acara berlangsung interaktif dengan tingginya dinamika diskusi dan sesi tanya jawab antara mahasiswa dan pemateri. Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai teori secara konseptual, tetapi juga terpacu untuk menerapkannya dalam penelitian tugas akhir maupun perancangan media ajar inovatif di masa depan.