Akselerasi Visi Global 2033 Lewat Kemitraan Internasional, Mahasiswa Unisla Kupas Tuntas Isu Perundungan dalam Kuliah Umum “Youth, Bullying and Advocacy: Legislative Policies That Address Bullying in Indiana, USA”
Akselerasi Visi Global 2033 Lewat Kemitraan Internasional, Mahasiswa Unisla Kupas Tuntas Isu Perundungan dalam Kuliah Umum “Youth, Bullying and Advocacy: Legislative Policies That Address Bullying in Indiana, USA”
fkip.unisla.ac.id, 19 Januari 2024, 14:30 WIB
Tim Redaksi
LAMONGAN, FKIP Universitas Islam Lamongan — Membangun ruang kelas yang aman dan bebas dari perundungan merupakan prasyarat mutlak bagi terciptanya proses pembelajaran yang efektif dan bermartabat. Memperluas cakrawala calon pendidik ke panggung dunia, Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Lamongan (Unisla) menjalin kemitraan internasional bersama De Montfort University (DMU) Leicester, Inggris (UK), dengan menggelar kuliah umum bertajuk “Youth, Bullying and Advocacy: Legislative Policies That Address Bullying in Indiana, USA”, Jumat (19/1/2024).

Diselenggarakan secara virtual melalui platform Zoom meeting, forum akademik bergengsi ini diikuti secara antusias oleh seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unisla dan jajaran dosen.
Kolaborasi lintas benua ini menjadi bukti nyata keseriusan program studi dalam mengimplementasikan visinya, yakni menjadi program studi pendidikan matematika yang unggul dalam Pengembangan Iptek dan Edupreneurship yang menekankan pada media pembelajaran bercirikan matematika realistik dengan mengamalkan risalah Islamiyah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah di Tingkat Internasional tahun 2033.
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unisla, Rahma Febriyanti, M.Pd., menyampaikan bahwa isu perundungan memiliki kaitan yang sangat erat dengan keberhasilan pembelajaran matematika realistik di sekolah.
“Dalam pembelajaran bercirikan matematika realistik, siswa dituntut aktif berdiskusi, bereksplorasi, dan menyampaikan ide secara terbuka. Jika ruang kelas tidak menjadi zona aman (safe space) akibat adanya perundungan, rasa cemas akan mengunci potensi kognitif anak dan mematikan nalar matematis mereka. Kemitraan internasional bersama institusi ternama di Inggris ini mempertegas langkah nyata kita menuju pengakuan internasional tahun 2033,” jelas Rahma Febriyanti, M.Pd. di Lamongan.
Lebih lanjut, Rahma menegaskan bahwa advokasi anti-perundungan berakar kokoh pada prinsip keislaman Aswaja an-Nahdliyah. “Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah menolak segala bentuk kezaliman dan kekerasan (la dharara wa la dhirar). Seorang guru matematika bukan hanya dituntut mahir teknologi dan inovasi media, tetapi wajib memiliki jiwa advokasi untuk melindungi harkat martabat kemanusiaan peserta didiknya, sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang adil, maslahat, dan penuh kasih sayang,” imbuhnya.
Kegiatan ini menghadirkan Sarah Kumfer, praktisi sekaligus Public Policy and Advocacy Director of Marion County Commission on Youth Indiana, USA, yang berkolaborasi dengan De Montfort University. Dipandu oleh moderator Ilham Khoiruddin, Sarah membedah efektivitas kerangka kebijakan hukum anti-perundungan di Indiana, standar operasional sekolah dalam penanganan korban, hingga pentingnya memberdayakan peran saksi mata (bystander) melalui program advokasi kepemudaan (youth advocacy).
Dalam sesi diskusi, mahasiswa Pendidikan Matematika Unisla terlibat aktif mengajukan pertanyaan komparatif seputar penerapan payung hukum perlindungan anak di Amerika Serikat dengan regulasi pendidikan di Indonesia.
Dekan FKIP Unisla, Moh. Nurman, M.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi atas terealisasinya program kerja sama internasional ini. Menurutnya, kolaborasi akademik lintas negara sangat penting untuk mendongkrak reputasi institusi, mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) kampus, serta memperluas wawasan multikultural sivitas akademika Unisla.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Dr. Fathurrahman, S.Pd., M.M., menambahkan bahwa kuliah umum ini akan ditindaklanjuti dengan penguatan kajian psikologi pendidikan dan manajemen kelas inklusif pada kurikulum prodi, serta membuka peluang riset kolaboratif (joint research) antara dosen Unisla dan mitra global di masa mendatang.