Patahkan Stigma Rumus Kaku Menuju Standar Global 2033, FKIP Unisla Bedah Logika Pembelajaran Bermakna Lewat Webinar Ngobrol Pintar PMRI “Mengapa Matematika Harus Masuk Akal?”
Patahkan Stigma Rumus Kaku Menuju Standar Global 2033, FKIP Unisla Bedah Logika Pembelajaran Bermakna Lewat Webinar Ngobrol Pintar PMRI “Mengapa Matematika Harus Masuk Akal?”
fkip.unisla.ac.id, 21 September 2024, 14:15 WIB
Tim Redaksi
LAMONGAN, FKIP Universitas Islam Lamongan — Anggapan bahwa matematika adalah mata pelajaran yang menakutkan, kaku, dan sarat hafalan rumus abstrak dipatahkan melalui pendekatan pedagogis yang membumi. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Lamongan (Unisla) bersama Himpunan Mahasiswa (Himadika) menyelenggarakan forum diskusi interaktif bertajuk Webinar: Ngobrol Pintar PMRI “Mengapa Matematika Harus Masuk Akal?” secara virtual melalui Zoom meeting, Sabtu (21/9/2024).

Kegiatan akademik ini diikuti oleh para pendidik matematika lintas jenjang sekolah, akademisi, mahasiswa calon guru, serta pemerhati literasi numerasi dari berbagai daerah.
Penyelenggaraan webinar ini menjadi instrumen penguatan konsep keilmuan yang bersinergi langsung dengan visi besar program studi, yaitu menjadi program studi pendidikan matematika yang unggul dalam Pengembangan Iptek dan Edupreneurship yang menekankan pada media pembelajaran bercirikan matematika realistik dengan mengamalkan risalah Islamiyah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah di Tingkat Internasional tahun 2033.
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unisla, Rahma Febriyanti, M.Pd., menyampaikan bahwa pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan fondasi utama dalam kurikulum keilmuan prodi.
“Visi internasional 2033 menuntut lulusan calon guru matematika Unisla memiliki distingsi pedagogis yang kuat diakui dunia. Matematika tidak boleh lagi diajarkan secara mekanistik berpusat pada instruksi guru semata. Melalui prinsip PMRI, pembelajaran matematika dimulai dari fenomena nyata yang dekat dengan keseharian siswa, sehingga proses abstraksi dan pemodelan rumus terasa masuk akal dan bermakna bagi penalaran mereka,” jelas Rahma Febriyanti, M.Pd. di Lamongan.
Lebih jauh, Rahma menguraikan bahwa pembelajaran yang masuk akal ini menjadi ladang subur bagi tumbuhnya pilar edupreneurship dan nilai keislaman. “Pendidik yang menguasai PMRI memiliki kejelian mengubah realitas lingkungan menjadi media pembelajaran bercirikan matematika realistik yang inovatif dan bernilai ekonomis, baik dalam bentuk modul ajar tematik maupun perangkat ajar digital mandiri. Gerakan ini mencerminkan risalah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah yang mengedepankan prinsip kemudahan, menolak kejenuhan belajar, serta menyebarkan ilmu pengetahuan yang memberi kemaslahatan nyata bagi umat,” tambahnya.
Narasumber utama kegiatan, Dr. Fathurrahman, M.Pd., mengupas materi bertajuk “Filosofi dan Konsep Dasar PMRI dalam Mengubah Stigma Matematika”. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa keberhasilan pembelajaran numerasi terletak pada kemampuan guru menyajikan masalah kontekstual yang memantik rasa ingin tahu siswa untuk mengonstruksi pemahamannya sendiri secara logis. Sesi tanya jawab berlangsung dinamis saat para guru dan mahasiswa mengkaji strategi mengatasi kebingungan siswa ketika menghadapi soal cerita kontekstual di ruang kelas.
Dekan FKIP Unisla, Moh. Nurman, M.Pd., yang turut mengesahkan agenda ini, menyatakan apresiasi atas komitmen prodi dalam menyebarluaskan inovasi pembelajaran yang relevan dengan pembenahan kualitas pendidikan nasional.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Dr. Fathurrahman, S.Pd., M.M., didampingi Sekretaris, Dr. Rivatul Ridho Elvierayani, S.Si, M.Pd., menerangkan bahwa webinar ini akan ditindaklanjuti dengan program lokakarya intensif perancangan modul ajar berbasis PMRI serta publikasi konten edukasi mikro di media sosial agar dampak pembaruan paradigma matematika ini dapat menjangkau masyarakat lebih luas.