Gali Kearifan Budaya Lokal Menembus Pentas Global 2033, Mahasiswa Unisla Selami Konsep Bermakna Lewat Studium Generale “Etnomatematika dan Pembelajaran Kontekstual”
Gali Kearifan Budaya Lokal Menembus Pentas Global 2033, Mahasiswa Unisla Selami Konsep Bermakna Lewat Studium Generale “Etnomatematika dan Pembelajaran Kontekstual”
fkip.unisla.ac.id, 10 Mei 2025, 14:30 WIB
Tim Redaksi
LAMONGAN, FKIP Universitas Islam Lamongan — Matematika sejatinya bukan ilmu abstrak yang terisolasi dari kehidupan manusia, melainkan lahir dan berkembang berdampingan dengan praktik budaya masyarakat sehari-hari. Membedah keterkaitan erat antara tradisi lokal dan konsep numerasi modern, Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himadika) Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Lamongan (Unisla) menyelenggarakan Studium Generale bertajuk “Etnomatematika dan Pembelajaran Kontekstual” di Ruang D 03.06 Kampus Unisla, Sabtu (10/5/2025).

Kegiatan akademik tahunan ini diikuti secara terarah oleh puluhan mahasiswa calon guru matematika dan dosen di lingkungan program studi guna mengeksplorasi potensi budaya sebagai sumber belajar matematika yang aplikatif.
Penyelenggaraan agenda ini menjadi langkah konkret dalam menghela ketercapaian visi Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unisla, yaitu menjadi program studi pendidikan matematika yang unggul dalam Pengembangan Iptek dan Edupreneurship yang menekankan pada media pembelajaran bercirikan matematika realistik dengan mengamalkan risalah Islamiyah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah di Tingkat Internasional tahun 2033.
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unisla, Rahma Febriyanti, M.Pd., menyampaikan bahwa kajian etnomatematika merupakan fondasi penting dalam memperkuat kekhasan kurikulum matematika realistik yang diusung prodi.
“Visi internasional tahun 2033 menuntut sarjana kita memiliki kepekaan merancang pembelajaran yang berakar pada kearifan lokal namun berdaya saing global. Pendekatan matematika realistik membutuhkan konteks nyata yang dekat dengan pengalaman anak. Melalui etnomatematika—seperti pola arsitektur bersejarah, motif batik, hingga permainan tradisional—calon guru dapat merancang pembelajaran kontekstual yang membuat matematika terasa ramah, bermakna, dan mudah dipahami,” papar Rahma Febriyanti, M.Pd. di lokasi acara.
Lebih lanjut, Rahma menguraikan integrasi pendekatan ini dengan pilar edupreneurship dan nilai keislaman Aswaja an-Nahdliyah. “Menggali etnomatematika membuka peluang inovasi edupreneurship melalui penciptaan lembar aktivitas siswa berbasis budaya, modul tematik lokal, hingga alat peraga etnodigital bernilai jual. Langkah ini selaras dengan kaidah fikih Ahlussunnah wal Jamaah al-‘adatu muhakkamah (adat kebiasaan dapat dijadikan dasar hukum), di mana tradisi baik masyarakat dirangkul untuk mempermudah transmisi ilmu demi kemaslahatan pendidikan umat,” imbuhnya.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Rivatul Ridho Elvierayani, M.Pd., membedah prinsip integrasi artefak budaya ke dalam kurikulum sekolah, teknik matematisasi pola etnik, serta strategi menyusun skenario pembelajaran kontekstual di ruang kelas dengan dipandu moderator Sulikah.
Dekan FKIP Unisla, Moh. Nurman, M.Pd., didampingi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kiki Septaria, M.Pd., mengapresiasi inisiatif keilmuan ini dan menegaskan pentingnya pembelajaran kontekstual dalam membangun karakter peserta didik yang mencintai warisan budaya bangsanya.
Ketua Panitia Pelaksana, Siti Masyiatul Istiqomah, didampingi Sekretaris Panitia, Ulifatur Rochmatin, mengungkapkan bahwa forum ini memicu banyak ide riset skripsi mahasiswa berbasis budaya lokal. Sebagai tindak lanjut, Himadika berkomitmen untuk memperluas jalinan kerja sama dengan mitra sekolah agar materi etnomatematika dapat diujicobakan secara berkelanjutan dalam praktik mengajar nyata.